mission vission bg
MUQADDIMAH

Latar Belakang

Mau tak mau, harus diamini bahwa Muslim di Indonesia kini mengalami stagnansi dalam hal pemikiran. Banyak di antara mereka yang terkungkung dalam kitab kuning, sehingga absen dalam kajian tentang politik, demokrasi, budaya, sains, ekologi, teknologi, dan lain-lainnya. Walhasil, ini menjadikan mereka semakin jauh dari kontekstualisasi di era modern, yang mana era ini begitu memiliki dimensi yang kompleks. Sehingga, jika hanya kaca mata fiqh saja yang digunakan, apalagi hanya merujuk fiqh Kitab Kuning cum Klasik, menjadikan mereka kerap non-kontekstual dan tidak relevan. Ini kemudian menimbulkan asumsi dari masyarakat, lebih-lebih masyarakat perkotaan dengan level pendidikan yang tinggi, bahwa Islam kemudian dianggap sebagai agama yang tidak bisa memberikan solusi dan jawaban dalam permasalahan modern yang begitu kompleks. Tentu saja, bagi seorang Muslim, pandangan tersebut salah. Sebab, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran dan Hadis, Islam adalah agama yang shahih likulli zaman wa makan—selalu sesuai dengan zaman dan tempat di mana Islam itu tumbuh. Atas dasar ini, maka muncul sebuah pertanyaan: jika Islam pasti kontekstual dan relevan, sehingga bisa mengakomodasi permasalahan umat, mengapa Muslim Indonesia ini malah justru stagnan dan kurang bisa memberikan jawaban di era modern?

Menjawab pertanyaan tersebut, sampailah pada kesimpulan bahwa yang salah bukanlah Islam, namun orang-orang yang memeluk Islam itu yang kemudian tidak bisa membaca nilai Islam secara holistik, tidak bisa membaca realitas hari ini secara lebih dalam, sehingga mereka semakin jauh dari realitas modern.

Di satu sisi, ortodoksi terhadap fiqh ini juga menimbulkan kecenderungan untuk semakin menutup diri atau eksklusif. Maka, tak heran bila kerap muncul narasi-narasi bahwa orang kafir (non-Muslim) dianggap halal darahnya, bahwa yang harus diutamakan adalah hanya umat Islam saja (padahal kita hidup di negara demokrasi yang menerima perbedaan agama). Bahkan, di internal umat Islam sendiri, perbedaan afiliasi ormas dan pilihan partai politik cukup menjadi aksiden yang hebat dalam proses terbentuknya fragmentasi-fragmentasi umat, yang parahnya lagi, mereka kadang juga mengambil dalil-dalil agama sebagai justifikasi perbuatan buruk tersebut. Dalam hal ini, Islam kemudian hanya menjadi kendaraan-kendaraan egoisme pribadi sehingga kehilangan sifat-sifat rahmah dan gerak peradaban yang adiluhung nan bijak. Mungkin, perkara seperti ini bukan lagi hal yang asing. Kita tahu, berbagai perpecahan umat Islam dari zaman dulu itu, misalnya di era Khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, dan Daulah Abbasiyah, telah menimbulkan perang saudara sesama Muslim yang berkepanjangan. Banyak darah-darah yang dikorbankan hanya demi kepentingan pribadi dan kelompok. 

Meski di Indonesia konflik keagamaan belum sampai derajat yang parah, namun ujaran kebencian karena sektor agama ini semakin membabi buta, lebih-lebih yang terjadi di sosial media. Di saat yang sama, upaya-upaya mengenalkan Islam secara holistik dan kontekstual ini ke dunia dan masyarakat yang lebih luas cenderung absen. Islam kemudian, oleh dunia luar (non-Muslim), cenderung dianggap sebagai agama yang kolot, rasis, bahkan sudah tidak relevan untuk dipeluk oleh masyarakat modern ini. Skema algoritma media sosial yang tidak mendasarkan pada baik-buruk, benar-salah, melainkan pada seberapa besar engagement yang terbentuk, menjadi habit baru dari netizen. Bahwa narasi yang didukung oleh like dan comment terbanyak, kemudian dianggap sebagai yang benar, begitupun sebaliknya. Dalam hal ini, batas benar dan yang salah semakin kabur. Masyarakat, terkhusus umat Islam, tidak lagi kembali merujuk kepada dalil-dalil Islam yang sahih, sehingga eksistensi Islam sebagai pedoman hidup (hudan lil an-nas) cenderung diabaikan. 

Dengan latar dan kondisi yang demikian, kami melihat perlu adanya usaha untuk menjadikan Islam, tentunya dengan paradigma yang holistik dan sahih, sebagai arus utama di media sosial. Maka, adanya lembaga “Keep Rahmah” (Keep.rah) adalah salah satu usaha kami untuk menjawab permasalahan tersebut. Kami berupaya menghadirkan pemahaman Islam yang kontekstual dan holistik di media sosial, dengan tetap merujuk pada dalil-dalil shahih dan serta epistemologi Islam yang kokoh. Kami sadar, bahwa kerja-kerja seperti ini tidak bisa terlaksana hanya dengan mengandalkan internal umat Islam saja. Maka, diskursus ini juga memerlukan andil dari pihak-pihak di luar umat Islam. Dan, ini sekaligus menjadi upaya untuk menjembatani internal umat Islam dengan dunia modern, dan dunia di luar Islam. Oleh sebab itu, kami menggunakan kata “Rahmah”, tidak lain adalah untuk menghadirkan wajah Islam yang rahmah, toleran, kontekstual, relevan, dan kasih sayang, tidak hanya kepada sesama umat Islam sendiri, namun juga kepada dunia di luar Islam. Harapannya, kerja-kerja seperti ini dapat kembali membentuk peradaban yang adiluhung dan bijak, meski masih membutuhkan jangka waktu yang panjang dan upaya-upaya yang lebih ekstra.

Our thoughts

Visi dan Misi

What we believe

Basis Nilai

Our thoughts

Kerangka Pikir

thumb 2.jpg

Reformis

Menggali kekurangan dan irelevansi yang terjadi pada umat Islam dan keagamaan secara menyeluruh tanpa menghilangkan nilai perennial.

thumb 1.jpg

Dialektis

Memperjelas komunikasi dan dialektika nilai tanpa tendensi subjektif terhadap masing-masing identitas, mencari common ground yang mutual, dan mengedepankan logika untuk menghasilkan sintesis yang mutualis.

service thumb 3.jpg

Non-Partisan

Menjauhi politisasi identitas yang dikotomis dan mendorong terciptanya multikulturalisme terhadap perbedaan identitas.

service thumb 2.jpg

Inklusif

Saling terbuka terhadap pemeluk agama sehingga tercipta kondisi sosial yang saling mengenal antar umat beragama.

thumb 3.jpg

Depolitisasi Agama

Berusaha menghilangkan praktik-praktik eksploitasi agama yang dimanfaatkan oleh partai politik untuk mencari suara dalam proses-proses pemilu.

thumb 4.jpg

Konstruktif

Berusaha memberikan tawaran, ide, atau praktis konkrit yang solutif terhadap problematika keagamaan.

KEEPRAH

Kelembagaan

Keep Rahmah adalah lembaga independen yang digerakkan oleh orang-orang yang memiliki spirit keislaman yang rahmah, terbuka, dan kontekstual dengan cara pandang yang holistik. Lembaga ini menjadi ruang pengkajian ilmu-ilmu keislaman dan isu-isu populis dengan menghadirkan diskusi, riset, dan aktivisme sosial dengan berusaha menjaring orang-orang dari berbagai latar agama, budaya, dan lain-lain, untuk bersama-sama dalam melakukan kerja-kerja yang memiliki dampak yang nyata.

11
0

Subtotal