#Opini

Islam NU dan Kedekatan dengan

islam nu dan kedekatan dengan

Masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) dianggap sebagai komunitas muslim yang mengedapankan nilai-nilai tradisonalitasnya. Tradisi-tradisi yang dilestarikan seperti ziarah kubur, ruwahan, nyadran, tahlilan, manaqib, haul, peringatan dan doa kematian, mitoni, tingkeban, hingga grebeg syura dan maalud sudah mewujud sebagai budaya yang melekat erat sehingga sudah tidak bisa dipisahkan lagi.   Lalu, dari manakah muasal semua tradisi-tradisi tersebut?

            Masyarakat NU sangat menjunjung tinggi perihal sanad keilmuan. Setiap kyai atau santri yang berdakwah di masyarakat, dipastikan sudah memperoleh sanad keilmuan yang jelas. Jika diturut ke atas, maka para kyai nyambung sanad keilmuannya sampai Walisongo. Adapun Walisongo, sudah tidak diragukan lagi mempunyai sanad bahkan nasab hingga Rasulullah SAW.

            Para wali itu sukses mengislamkan masyarakat Jawa lewat ajaran Islam yang ditradisikan. Sebagai bukti, hingga hari ini masih sering terdengar adagium-adagium di masyarakat seperti nrimo ing pandum, sangkan paraning dumadi, mbhau rekso, ngalah, adagang-adigung-adiguna, edi peni, bener tapi ora pener, nyawiji maring pengeran, manembah, raos sami, tepo slira, tulung tinulung, bebrabyan agung, becik ketitik olo ketoro, dll. yang merupakan peribahasa yang diambil dari saripati ajaran tasawuf.

            Masyarakat Jawa juga mengenal istilah Janma Utama, yang banyak terekam dalam suluk-suluk dan serat-serat karangan para wali. Secara bahasa, Janma Utama berarti manusia sempurna yang sepadan dengan kata “Insan Kamil” dalam bahasa Arab.

Manusia sempurna dalam terminologi Al-Quran disebut sebagai manusia yang berhasil menjalankan titah Tuhan dengan baik. Berkelindan dengan hal tersebut, Surah Al-Baqarah ayat 30 menerangkan bahwa tugas menusia di bumi ialah menjadi Khalifah fi Al-Ard (Wakil Tuhan di bumi), yang memiliki wewenang untuk merawat, memakmurkan, menjaga, serta menyejahterakan bumi dan segala isinya.

Artinya, manusia dibebani oleh Tuhan agar bisa menjaga harmoni dengan baik, entah relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam (termasuk hewan dan tumbuhan), maupun dengan sesama manusia sendiri. Jika harmoni itu sudah terjaga, maka di bumi tidak akan terjadi kerusakan.

Ekologi dalam Tradisi Masyarakat NU

            Sudah dijelaskan di atas, akar dari tradisi masyarakat NU bersumber dari ajaran Walisongo. Dalam mengkontekstualisasikan Islam yang bernada tasawuf itu, para wali memiliki cara yang unik dan strategis. Yakni lewat budaya masyarakat.

            Budaya dari masyarakat NU hampir semuanya dilakukan secara bersama-sama dengan sistem gotong royong. Misalnya ketika ada nikahan, tetangga-tetangga di sekitar rumah diundang untuk turut serta membantu prosesi acara agar berjalan lancar.

            Atau ketika nyadran dan merti bumi, masyarakat bareng-bareng memperbaiki, menanam pohon, serta membersihkan situs-situs keramat seperti sumber mata air atau pesarean, lalu diakhiri dengan doa dan makan bersama.

            Pun ketika ada perempuan hamil empat dan tujuh bulan, diadakan tradisi ngapati dan tingkeban, dengan mengundang sanak saudara serta tetangga untuk menghadiri pembacaan doa dan diakhiri dengan makan bersama.

Tradisi-tradisi di atas, jika ditelaah secara mendalam maka menjadi momen bagi anggota masyarakat untuk saling bertemu, bercengkerama, yang pada akhirnya semakin merekatkan hubungan sosial mereka. Komunalitas ini pada akhirnya membentuk sistem saling tolong menolong dan rasa kepedulian yang tinggi antar sesama. Oleh sebab itu, dengan melestarikan tradisi tersebut, maka harmoni sosial akan tetap terjaga.

Lalu, dimana letak ekologi dalam tradisi masyarakat NU?

            Sebenarnya, setiap tradisi yang NU lalukan dengan pasti mengajarkan rasa penghormatan kepada alam. Misalnya, dalam tradisi nyadran dan merti bumi, masyarakat membersihkan tempat-tempat yang dianggap sakral, jika ada yang rusak, maka diperbaiki. Pun ketika ada beberapa tempat yang dirasa gundul, dengan segera akan ditanami pohon.

            Atau, banyak dari masyarakat NU yang percaya bahwa pohon-pohon besar digunakan oleh jin sebagai tempat tinggal sehingga tidak elok rasanya untuk merusak tempat tinggalnya dengan cara menebang pohon tersebut. Dengan menaruh kepercayaan seperti itu, maka pohon tersebut akan tetap lestari yang berfungsi dalam penjagaan ekosistem.

            Perihal tempat tinggal jin, banyak disebutkan dalam hadis bahwa manusia sejatinya menempati tempat yang sama dengan jin, hanya saja beda dimensi. Bahkan, Tuhan telah menegaskan, percaya dengan hal-hal gaib adalah bagian dari iman, sebaliknya, jika tidak percaya maka imannya kurang sempurna.

            Selain hal di atas, masih banyak tradisi-tradisi seperti dalam pernikahan, calon pengantin diwajibkan untuk menanam pohon, yang dimaksudkan ketika mereka sudah punya anak, dan anak itu berumah tangga, maka bisa menggunakan pohon yang semula di tanam itu sebagai bahan untuk pembuatan rumah, sehingga sama sekali tidak merusak alam.

            Atau dalam ajaran moral yang mendidik untuk mengambil seperlunya, tidak rakus, menghormati liyan (termasuk makhluk selain manusia), tidak boros—sudah tertanam kuat dalam masyarakat NU. Nilai-nilai kehidupan itu yang pada akhirnya, mendorong mereka untuk tidak memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan, serampangan, sehingga tetap terjaga.

            Dengan menciptakan beragam tradisi seperti itu, Walisongo telah berhasil menjadikan masyarakat Jawa sebagai Insan Kamil yang bisa mengatur relasi yang baik antara Tuhan, alam, dan sesama manusia.

            Oleh sebab itu, corak Islam tasawuf kental dalam nuansa-nuansa dialektika kehidupan mereka. Sampai di sini, terang kiranya bahwa tradisi yang dilakukan masyarakat NU tidak bertentangan dengan Islam, justru mereka menerapkan inti dari ajaran Islam yang disarikan dalam tasawuf, yang memiliki dimensi-dimensi keseimbangan semesta.

Islam NU dan Kedekatan dengan

Islam NU dan Kedekatan dengan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0

Subtotal