#Opini #Populer

Ternyata, Ada “Luka Sejarah” Dibalik Tradisi Geber Motor Kawal Kyai di daerah Magelang dan Temanggung

geber motor

Disclaimer: tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau mendukung partai atau kelompok tertentu, melainkan murni menarasikan dari hasil observasi

Mungkin, orang luar yang berkunjung atau sekadar lewat Kab. Magelang dan Kab. Temanggung, Jateng, akan kaget jika menjumpai iring-iringan motor dengan suara kencang, blayer-blayeran—geber motor—dengan motor utamanya biasanya motor 2-tak, seperti Yamaha King, Yamaha FizR, Yamaha Fozone, dan lain-lainnya. Mereka tidak pakai atribut partai, tidak pula pakai bendera atau logo tertentu. Yang tampak justru orang-orang berpakai sarung, mengenakan peci, berbaju koko, mengenakan sorban bercorak kotak hitam-putih, dan di antara mereka terkadang memakai kacamata hitam, menunjukkan seakan-akan mereka adalah orang yang gagah dan gahar.

Mereka akan melintasi jalanan dengan percaya diri sembari menghidupkan klakson, yang buru-buru disambut oleh klakson lain dari kelompoknya, sehingga memberikan rima dan alunan yang bernada—khas perkusi dengan nada-nada yang semangat. Suara ini menjadi penyela-nyela di tengah suara brong knalpot 2-tak—suara yang saling berpadu, seakan-akan berbunyi, “Ndennn tet tet, nden, nden,” yang terus dilakukan berulang kali. Ini menghasilkan keriuhan dan kemeriahan jalanan.

Para pengendara lain pun buru-buru mengalihkan perhatian, dan mereka sudah paham bahwa ada konvoi sakral yang sedang digelar: mengawal perjalanan kyai, yang biasanya berada di tengah atau di belakang rombongan itu dengan mengendarai mobil. Jelas, faktanya, di zaman ini, di Temanggung dan Magelang, tanpa pengawalan itu pun, kyai akan tiba dengan selamat, akan sampai ke tujuan acara (tempat pengajian) tanpa gangguan kriminalitas. Namun, sebenarnya, ada motif apa dibalik itu?

Keimanan dan Keberanian dalam Suara Knalpot

Suatu ketika, saya menghadiri pengajian. Sehari sebelum pengajian, kawan saya sibuk mengotak-atik motornya: mengganti dengan knalpot brong. Ini memang diniatkan secara serius untuk ikut konvoi itu. Saat ditanya apa motifnya, ia menjawab bahwa ada perasaan bangga dan senang ketika mengikuti acara itu. Ia merasakan vibes bagaimana penghormatannya terhadap Islam itu benar-benar teraktualisasi, yang berpadu dengan tangan kanannya yang menarik gas, sehingga suara gahar motornya itu juga merupakan luapan emosi keberanian atas keberimanannya.

Ia mengaku, jika seandainya ada yang mencoba menghalangi atau berbuat onar terhadap konvoi itu, terhadap mobil kyainya itu, maka sudah dipastikan akan ada konflik. Orang-orang yang ikut konvoi itu merasa bahwa mereka di jalan yang benar, mereka mengawal “orang suci”. Namun, sejauh ia mengikuti konvoi itu, katanya, belum pernah ada konflik. Konvoi hampir selalu berjalan dengan lancar. Walau demikian, rombongan konvoi akan tetap mengalah jika ada mobil atau rombongan penting seperti mobil ambulans atau mobil pemadam kebakaran.

Dan, masih menurutnya lagi, pengajian tanpa konvoi terasa kurang asyik. Konvoi ini dilakukan oleh orang-orang muda, sementara orang-orang tua menunggu dan menyambut kyai di tempat pengajian, sembari nanti melantunkan shalawat tala’al badru ‘alaina yang dipandu oleh tim hadrah ketika “sang kyai” sudah sampai di tempat acara. Adapun para pemudi akan menjadi among tamu, membagi snack, menjadi panitia, mengarahkan anak-anak TPA untuk berbaris dan duduk teratur, hingga membantu persiapan konsumsi di dapur umum, yang biasanya juga disiapkan oleh ibu-ibu. Oleh sebab itu, dalam acara seperti ini, apalagi di desa-desa pelosok Temanggung dan Magelang, pengajian adalah acara yang sakral, ritual yang sakral, acara yang menautkan seluruh elemen masyarakat dalam satu peristiwa bersama: ungkapan keimanan mereka yang komunal!

Dukungan Kyai dan Tradisi yang Turun Temurun

Beberapa saya dengar bisik-bisik, salah satu kyai mengatakan bahwa justru suka dengan konvoi itu. Menurutnya, konvoi geber-geber itu bagian dari menjaga identitas Islam, meskipun jangan sampai mengganggu ketertiban jalan. Kata teman saya, justru para pemuda melakukan konvoi itu sudah berlangsung lama, dan memang sudah menjadi tradisi. Bahkan, tetua kampung pun menyuruh untuk mengadakan hal demikian di setiap kali ada pengajian.

Luka Sejarah Orde Baru

Saya pun bertanya ke salah satu tetua kampung, mengapa melakukan konvoi geber knalpot untuk menjemput kyai. Dan, benar dugaan saya, itu tidak lepas dari sejarah lama di era Orde Baru: konflik sosial masyarakat akibat dikotomi partai politik yang hanya menjadi tiga kelompok, yakni PDIP, PPP, dan Golkar. Kata tetua kampung, dulu PDIP kebanyakan diikuti oleh orang-orang “Abangan”, lalu Golkar diikuti oleh tentara, polisi, pengusaha, kalangan orang kaya, dan pejabat beserta keluarganya. Nah, baru kemudian PPP ini yang menjadi aspirasi dari kalangan santri, masyarakat yang memiliki latar keislaman yang cenderung kuat, yang mereka ini terhubung dengan para kyai yang menjadi guru dan panutan mereka.

Tetua kampung kemudian menceritakan bahwa dulu, mungkin sekitar tahun 80-an atau 90-an, banyak terjadi represi terhadap kalangan santri. Di antara motifnya adalah perebutan kursi pemilu. Jadi, menurutnya, di era itu, banyak kyai yang ditahan, bahkan dipaksa oleh kelompok Orde Baru untuk mendukung calon-calon dari Golkar. Ketika tidak mau, maka akan terjadi represi, ancaman, teror. Padahal, jelas-jelas mayoritas dari kyai-kyai itu merupakan simpatisan dan kader PPP.

Untuk itulah, ketika kyai bakal mengisi pengajian, kerap dicurigai akan melakukan kampanye politik ke masyarakat agar konsisten dan istikamah memilih PPP di Pemilu. Oleh sebab itu, banyak “orang-orang yang tak dikenal” yang kerap melakukan penghadangan dan pencegatan di tengah jalan agar “sang kyai” gagal berceramah dan memengaruhi massa, bahkan terkadang juga dilakukan represi fisik. Sejak kejadian waktu itu, maka masyarakat pun langsung inisiatif melakukan pengawalan terhadap kyai yang hendak ke tempat pengajian. Mereka bergerombol dan membentuk lingkaran pertahanan agar kyai bisa berangkat dan pulang dengan selamat selepas melakukan pengajian. Mereka mengikhlaskan diri mereka jika nanti-nantinya terjadi baku hantam dan hal-hal buruk yang dialami. Yang penting, kyai tetap selamat!

Masih menurut tetua kampung, bahkan di kampungnya dulu, masyarakat sampai terpecah menjadi dua golongan, simpatisan Golkar dan simpatisan PPP. Hingga dalam urusan “tahlilan keliling” pun, mereka tetap tidak bersatu. Imbasnya, banyak bantuan dari anggaran Pemerintah Desa hanya dinikmati oleh simpatisan Golkar. Ini menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan. Jika ingin mendapatkan bantuan dari pemerintah, maka simpatisan PPP harus berjanji untuk mencobolos Golkar di Pemilu mendatang. Karena mereka tidak mau, maka tetap hidup dalam keterbatasan. Dulu tetua kampung itu dan kelompoknya sampai secara bersama-sama melakukan buruh garap sawah, buruh bangunan. Bayaran uangnya bukan untuk kebutuhan ekonomi mereka, namun digunakan membangun infrastruktur jalan dan penerangan, dan infrastruktur penting lainnya.

Merasakan Peristiwa “Hijrah”-nya Nabi Saw.

Kini, identitas dan konflik sosial akibat partai itu sudah cenderung cair. Cenderung tidak ada lagi represi berbasis partai politik. Kini, desa tetua kampung itu sudah solid. Perbedaan pilihan partai bukan lagi menjadi penyebab dominan dalam konflik sosial.

Konvoi motor brong itu terus dipertahankan, dan motifnya mulai bergeser sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan kyai. Bagi orang kampung, kyai adalah sosok istimewa. Bukan hanya menjadi pembimbing dalam masalah-masalah penting duniawi, namun oleh mereka diposisikan sebagai sosok yang bisa membawa mereka ke surga, kelak. Mereka memosisikan kyai sebagai pribadi yang meneruskan estafet kenabian Muhammad Saw.

Oleh sebab itu, saya menangkap pesan tersirat bahwa dari konvoi motor brong, penyambutan tala’al badru ‘alaina, penyediaan konsumsi yang sangat layak ke kyai, hingga antusiasme seluruh elemen masyarakat dalam kemeriahan pengajian di kampung pelosok itu merupakan upaya menghidupkan tradisi rohaniah, seakan-akan mereka itu hidup di era Kanjeng Nabi Saw.

Pertama, iring-iringan motor brong itu sebagai upaya menyambut dan melindungi kyai dari tindakan kriminal. Ini mirip dengan kaum Ansor yang menyambut, menjemput (menyusul), dan melindungi Nabi Saw. dan Abu Bakar yang waktu itu hijrah dari Makkah ke Madinah. Kedua, penyambutan tala’al badru ‘alaina dengan iringan hadrah sama halnya dengan kaum Ansor yang waktu itu melantukan shalawat demikian yang juga diiringi musik ketika Nabi Saw sampai ke Madinah dengan selamat,  

Ketiga, serentaknya seluruh elemen masyarakat dalam menyiapkan dan menyukseskan pengajian itu, sehingga siraman rohani dari kyai bisa berlangsung dengan nyaman dan sukses, sama halnya dengan masyarakat Muslim di Madinah yang sangat antusias dan siap untuk menerima siraman dan oase tauhid dari Kanjeng Nabi Saw. Bahkan, kadang masyarakat berebut untuk menjadi tuan rumah peristirahatan sementara kyai, dianggap oleh mereka mendatangkan keberkahan, yang sama halnya dengan kaum Ansor yang berebut agar rumah mereka ditempati oleh Sang Nabi Al-Musthofa,

Pada akhirnya, tradisi jemput dan kawal kyai pakai motor brong itu merupakan ekspresi keluguan iman, bentuk penghormatan dan pemuliaan ke kyai, serta menjadi bagian penting dari penjagaan identitas dan solidaritas Muslim. Hanya saja, menurut saya, tradisi tersebut sebaiknya jangan sampai mengganggu ketertiban umum. Sebab, jalanan milik rakyat, bukan milik kaum Muslim saja. Dan, menjaga perdamaian, ketertiban, dan keamanan termasuk ajaran utama dari Sang Nabi Saw.

Ternyata, Ada “Luka Sejarah” Dibalik Tradisi Geber Motor Kawal Kyai di daerah Magelang dan Temanggung

Islam NU dan Kedekatan dengan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0

Subtotal